Hey, Aku Pengagummu!

Mentari sore masih bertengger malas di langit sana. Bumi telah kembali bernafas lega lantaran baru saja selesai menerima jutaan hantaman peluru basah. Dan aku, aku masih di persimpangan ini bersamamu sampai kau bosan dan kembali menjadi maya. Jika esok kau datang lagi, aku akan dengan senang hati menemuimu. Kau tahu? Tak masalah untukku berjam-jam bersamamu, bahkan seharian. Karena disini, bersamamu, aku bebas mengungkapkan apapun. Ya, apapun. Kesal, sebal, marah, benci, takut, semua hitam putihnya, hingga kebahagiaanku pun aku lebih leluasa melepaskannya ditempat ini bersamamu. Walau kau tak pernah meresponku, tak pernah menghiburku, setidaknya kau bisa membuatku lebih tenang. Ingatkah kau, sore itu di hari yang sama, aku menemuimu dan membiarkan air mataku jatuh didepanmu. Kau tak menghiburku, kau diam, dan kau dengan semua sifatmu itu ternyata mampu membantuku untuk dapat kembali menyunggingkan senyumku. Kau ingat?

Mentari sore telah selesai tunaikan tugasnya hari ini. Bumi baru saja memulai tugasnya bersama si cantik Luna, Stella dan teman-temannya. Di persimpangan ini, kau juga sudah pergi. Waktuku untuk pulang. Aku berjanji, jika aku masih memiliki waktu dan jika esok kau datang lagi, aku akan langsung menemuimu. Aku tinggal menunggu kabarmu. Di tempat aku biasa menyibukkan diri menata mimpi-mimpi, seringkali kuabadikan kau dalam catatan-catatan kecilku. “Kau itu salah satu ciptaan Tuhan yang indah. Aku bersyukur bisa sedekat ini denganmu. Jika boleh aku jujur, aku ini pengagummu, sungguh. Aku tak pernah jenuh ada di dekatmu. Dan menurutku, kau itu berbeda dengan yang lain.” Ah, bicara apa aku ini? Tentu kau berbeda dari yang lain. Kau terlalu tulus, tak pernah inginkan apapun dariku meski ketika kita bersama, selalu aku yang meminta darimu. Kau tak pernah meminta apa-apa dariku bukan? Hmm kurasa cukup, kurapikan kembali catatan-catatan kecilku. Hey, lihat! Hampir semua catatan kecilku ini tentangmu! Ah, benar memang. Aku terlalu mengagumimu. Sudah, aku harus tidur. Semoga esok aku masih memiliki waktu dan bisa menemuimu.

Mentari pagi menyambutku, sepertinya ia sedang bersemangat. Kuintip dari jendela, ia terlihat cerah sekali pagi ini, embun dibuat menetes perlahan karenanya. Bumi telah ditinggalkan Luna, Stella, dan teman-temannya, ia terlihat gagah bersanding dengan mentari. Aku belum menuju persimpangan, belum menemuimu. Kau belum memberiku kabar, aku menunggu kabarmu. Pagi ini memang berbeda, hangatnya mentari pagi ini mampu menembus sweater tebal kesayanganku. Sambil menunggu, secangkir kopi cokelat dan buku yang belum selesai kubaca sepertinya cocok menemani pagiku. Kupilih gazebo di taman belakang rumah untuk menikmatinya, aku selalu suka tempat ini. Kubuat posisi dudukku senyaman mungkin. Tangan kananku sibuk memegang cangkir, tangan kiriku memegang buku, sementara mataku terus memburu kata per kata di buku bacaanku. Namun aku tak bisa berlama-lama seperti ini, hanya 30 menit waktu untuk bersantai pagi ini, aku harus kembali menunaikan kewajibanku, hingga habis waktu siang. Aku masih berharap kau lekas memberi kabar padaku dan aku dapat segera menemuimu hari ini. Dan, ternyata sepanjang siangku hujan. Aku tak akan bercerita apa-apa disini.

Mentari sore kembali lagi, sama seperti kemarin, ia kembali bertengger malas di langit tempatnya bertugas. Bumi kembali basah, hembusan nafasnya dapat terdengar dengan jelas lantaran hujan telah selesai menjalankan amanah dari pencipta-Nya. Dan persimpangan itu.. ya, aku segera menuju kesana. Tak ada telepon, tak ada sms darimu, aku segera kesana menemuimu. Kembali menghabiskan waktuku bersamamamu hingga kau bosan dan kembali menjadi maya. Tunggu, kau bingung kenapa aku tahu kapan kau datang sementara kau tak memberiku kabar? Hey, sudah kubilang, aku ini pengagummu, jelas aku tahu. Aku telah menerima kabar itu. Hujan itu telah selesai dan bumiku telah basah, aku tahu kau akan datang setelah itu. Ayolah, biarkan aku tetap mengagumimu dan menikmati sejukmu, petrichor. Meski bisu, hadirmu itu menenangkan.

Mentari sore pamit. Si cantik Luna, Stella dan teman-temannya kembali bertugas menemani Bumi. Aku baru saja beranjak dari persimpangan, kembali menuju rumah. Menulis catatan-catatan kecil tentangmu, lagi.

                                                                                                                                                         ***

Petrichor            : Aroma sejuk yang menyeruak setelah hujan
Luna                 : Bulan (Yunani)
Stella                : Bintang (Yunani)

*gambar ilustrasi diambil dari google*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s